Pindahan
yuk, berkunjung yukkk.... Gue tunggu lhoooo....
-vina-
Aku kangen kamu
Sederhana saja
Tidak ada alasan ilmiah yang serius
Karena yang kita punya juga tidak serius,
Apalagi ilmiah
Kangen sama ke’ada’an kamu disekitarku
Kangen dengan perasaan dekat
Sesederhana itu saja
Liburaaaaaannnn!!!! After having a great refreshing m
R
Banyakkkk banget yang bisa gue catat dari liburan kali ini, selain catatan pengeluaran gue ya (yang kayanya bakal bikin gue jadi miskin for the rest of the month!). Gue coba highlight beberapa hal untuk sekarang.. sisanya menyusul, kalo nggak males..
(Eh, sebenarnya gue mau kasih foto-foto di posting ini, tapi kok nggak bisa ya? ada yang tahu cara lain untuk insert foto nggak?)
Shop 'Til You Drop At Chatucak
Chatucak adalah pasar tradisional di Bangkok. Bukanya cuma hari Sabtu dan Minggu, dari jam 9-an sampai jam 6 sore. Isinya? Errrr, practically EVERYTHING you’re looking for! Mulai dari baju, tas, asesoris, perabotan dan pajangan rumah, souvenir khas Thai, makanan, buku, binatang.. you name it! Dari yang legal sampai yang ilegal juga didagangin disini. Pasarnya gueeedee dan jalan di dalamnya bercabang-cabang membentuk blok-blok. Gue sampai takut kesasar.
Di Chatucak ini keahlian menawar benar-benar diperlukan. Bayangin dong, yang harga awalnya dibilangin 300 Baht, ternyata bisa ditawar sampai 130 Baht. Lucunya, karena hampir semua pedagangnya gak ngerti bahasa Inggris, semua tawar-tawaran harga dilakukan lewat kalkulator. Pedagangnya juga lumayan ramah. At least, gue gak pernah dijutekin cuma karena nawarnya kerendahan, kayak di ITC tuh.. hehehe…
Aneh juga sih, di Jakarta aja gue nggak pernah tuh, yang namanya pergi ke pasar tradisional. Eh, ini malah gue menghabiskan waktu sampai hampir 5 jam di pasar
Satu lagi, kalo lo ke Chatucak dan tiba-tiba ngelihat satu toko yang barangnya lucu dan lo pengen beli, segera lakukan saat itu juga! Kalo lo tunda dengan pikiran, ‘nanti aja pas balik’, percaya deh, the chance of you finding the store again on your way back is as slim as the chance of finding halal restaurant in Thailand!
Nonton Tiffany’s Cabaret di Pattaya
Oke, oke… gue tahu semua orang udah tahu kalo
Selesai show, para pemain kabaret itu berpose di halaman gedung pertunjukan. Ternyata kita bisa foto bareng mereka, tapi harus bayar! Gue bayar 50 Baht untuk foto bareng transvertite yang bajunya paling bagus, kayak gaunnya Cinderella. Begitu gue ceritain ini sama adek gue pas pulang ke
Hmmmm.. gue baru merasa ada yang aneh disini.
Semalam gue begadang karena ada kerjaan. Dan seperti biasa, sambil ditemenin TV, karena gue memang nggak bisa kerja kalau suasananya terlalu sepi. Waktu itu lagi sinetron yang modelnya film televisi. Walaupun gue nggak lihat gambarnya dan cuma ngedengerin dialognya sambil lalu, tapi ditengah-tengah gue ngerasa aneh. Kok gue kayanya familiar banget ya dengan dialognya? Ketika akhirnya gue nonton, gue makin ngerasa nggak asing dengan adegan-adegannya. Dan akhirnya gue inget! God, ini kan cerita film ”10 Things I Hate About You”. Sumpah lo, ditiru seplek-pleknya sampai dialognya pun beneran terjemahan abis. Bahkan pemainnya (yang menurut gue nggak ada yang bisa acting), nggak merasa perlu buat nambahin intonasi atau ekspresi yang beda. For the love of God!!
Gue juga ingat, kalo akhir-akhir ini ada sinetron seri di TV yang ’diilhami’ sama cerita komik Candy-Candy. Sepertinya yang dimaksud ’diilhami’ disini adalah, lagi-lagi, menerjemahkan sepolos-polosnya cerita komik Jepang itu ke dalam bahasa Indonesia dan dibuat dengan casting orang beneran, instead of animasi. Gue jadi berasa baca komik Candy-Candy dengan tokoh-tokohnya jadi orang Indonesia.Kenapa nggak sekalian aja judul sinetronnya dibuat jadi ’Permen’ atau ’Kembang Gula’? Adek gue juga pernah cerita, kalo dia sempat ngelihat sebuah sinetron yang ceritanya asli sama dengan cerita film ’Cinderella Story’. Lebih sedihnya, sinetron itu adalah sinetron religi! Jenis sinetron yang seharusnya mengajarkan nilai-nilai baik dan religius. Gimana bisa, kalau media penyampaiannya adalah sebuah tiruan!
Gue pikir setelah kritikan sana-sini karena dijiplaknya drama-drama seri Korea menjadi sinetron-sinetron top rating beberapa bulan lalu, para pebisnis sinetron itu akan malu dan jera. Ternyata nggak. Mereka cuma mengalihkan bisnisnya dari jiplakan Korea ke tiruan Jepang dan Hollywood. Crap!
Pada akhirnya gue hanya punya pertanyaan-pertanyaan. Apakah ide-ide yang datang dari kepala penulis kita sudah sedemikian nggak menjualnya, sehingga perlu menerjemahkan cerita luar dengan tanpa mempertimbangkan apakah cerita itu mungkin apa nggak terjadi di Indonesia? Temen gue yang kerja di media pernah bilang, para penulis skenario kadang-kadang bukannya nggak punya ide cerita orisinil, tapi seringkali ide mereka nggak ditanggapi sama sekali dan malah disuruh untuk membuat versi bahasa Indonesia dari cerita drama seri luar negeri. Kalau sudah begitu, siapa yang berani melawan pebisnis yang memodali sinetron-sinetron itu? Terus, apakah penonton seperti gue dianggap sebegitu bodohnya sehingga nggak akan tahu bahwa sinetron ini adalah jiplakan teen movie-nya Hollywood? Dan kenapa sih artis-artis itu mau main di cerita tiruan? Kalau sampai mereka berkelit dengan bilang kalo mereka nggak tahu kalau itu jiplakan, menurut gue lebih aneh lagi sih. Bukannya sebagai artis mereka seharusnya banyak nonton film untuk bahan referensi acting dan pengetahuan?
Terus terang, gue sedih dengan keadaan ini. Bayangin deh, kalo mau idealis dikit nih, kita kan selalu menggembar-gemborkan adat timur yang sopan. Sopankah namanya kalo kita menjiplak ide orang lain dengan seenak perut dan tanpa izin? Sementara kita teriak-teriak ketika Malaysia mengklaim batik dan rendang sebagai kekayaan budaya mereka. Kita menganggap mereka mencuri. Lah, kalo gitu sinetron ’Sepuluh Hal Yang Gue Benci Dari Elo’ itu apa dong namanya? Apa bisa lo bangga seandainya cerita jiplakan itu disukai orang banyak? I surely can’t. Tapi siapalah gue. Orang yang nggak pernah ngerti tentang bisnis. Orang yang cuma tahu bahwa yang namanya orisinalitas harus dijunjung tinggi.
Siap-siap aja, mungkin dalam waktu dekat kita akan lihat sinetron ”Pahlawan”, ”Ibu Rumah Tangga Yang Putus Asa”, atau film tv ” Sebelas Samudera”.
(Dan buat mereka yang bertanya-tanya, iya, ’Intan’ itu juga jiplakan drama seri Korea!)
Gue nggak banyak kenal super hero, karena gue nggak terlalu suka baca komik. Gue nggak terlalu suka baca komik, karena buat gue gambar-gambar komik membatasi imajinasi gue tentang ceritanya. Tapi itu gue tulis lain kali aja lah. Sekarang gue mau ngobrolin super hero yang gue tahu. kalo yang umum-umum, kaya Batman, Superman, Spiderman, yah.. lumayan lah gue kenal. Dan dari sedikit pengetahuan gue, ada bebererapa hal yang gue catat tentang mereka. Yang jelas, persamaan mereka adalah semuanya punya secret identity. Sebagai salah satu orang narsis, gue salut lho. Soalnya kalo gue bisa menyelamatkan dunia, pastinya gue pengen banyak orang yang tahu gue.. hehehe… dasar banci tampil. Itu kali kenapa gue nggak jadi super hero!
Batman
Ini super hero favorit gue. Why? Karena sebenernya dia nggak punya kekuatan super. Batman itu manusia biasa. Tanpa alat-alat dan kendaraannya yang sophisticated itu, dia biasa banget. Kekuatannya dia, which is menurut gue kembali sangat manusiawi, adalah kekayaan dan pengaruhnya. His richness and influence has made it possible for him to develop all those gadgets and vehicles, thus support him in fighting the villains. Mungkin memang cuma ada satu atau dua orang yang bisa terbang atau ngeluarin jaring laba-laba dari tangannya, tapi orang yang filthy stinkin’ rich itu banyaaakk banget lhooo. Berarti sebenernya banyak orang yang bisa memilih untuk jadi super hero, tapi ternyata hanya ada seorang Batman. Bruce Wayne membuat pilihan untuk nggak jadi orang kaya biasa, tapi orang kaya yang memerangi kejahatan. Mungkin karena dia tahu, kalau money is the root of all evil.
Buat gue, akan lebih perfect lagi kalo si Bruce Wayne jadi kaya karena usaha dia sendiri, bukan karena warisan orang tua… halah,halah!!!
Kalo yang ini kesukaannya adek gue. Yang gue suka dari Spidey adalah dia digambarkan begitu colorful dan ceria. Beda sama Batman dan Superman yang kesannya jaim kalo lagi jadi hero. Spidey nggak. Dia bisa teriak-teriak sesukanya, ngebanyol dan mengeluarkan kata-kata makian. Gerakan-gerakannya juga banyak akrobatiknya, jadi lebih luwes dan variatif dibanding Batman dan Superman. Mungkin karena Spidey nggak pakai jubah ya? Bahkan tokoh teman dekatnya, Mary Jane, juga adalah seorang cewek biasa. Just another red-haired-girl next door. Bukan wartawati cerdas dan nosy seperti Lois Lane-nya Superman, atau Vicki Vale-nya Batman.
Setahu gue, Superman adalah salah satu super hero yang tidak mendapatkan kekuatannya karena kecelakaan. Tapi karena dia memang beda. Superman itu alien. Dia adalah makhluk penghuni planet lain yang harus mengungsi ke bumi. So, he bares the power he was born with. Kalo di planetnya sendiri, dia nggak istimewa karena semua orang disana punya kekuatan yang dia punya. Tapi karena dia di bumi, makanya dia jadi super. Terus terang, yang gue pelajari dari Superman adalah bahwa terkadang kita mungkin harus keluar dari habitat kita supaya menjadi seseorang yang special dan biar bisa berbuat lebih banyak untuk orang lain.